Renunganku


Buat teman-teman di TDA Joglo yang mau buat plan 2008

 Melakukan suatu usaha yang itu-itu saja dan berulang seringkali membuat kita berada dalam “comfort zone”, sudah puas .. nggak usah macem-macem deh .. gini juga sudah cukup kok, buat apa pusing.
Perubahan sekecil apapun akan membuat perasaan tidak nyaman, kita seperti orang buta yang karena kebiasaan sudah tidak perlu petunjuk apapun dalam melangkah, ada sandungan sedikit sudah goyah … tapi tunggu dulu … ada cerita sedikit mengenai orang yang buta ….
Ada seorang buta yang hidup sendiri didesanya, baginya tiada beda siang atau malam kalau menuju kesuatu tempat [lha wong buta kok bisa membedakan siang/malam], sampai suatu ketika saat sedang berjalan dikegelapan dia tertabrak dengan seseorang yang sedang berdiri ditepi jalan. Rang tersebut menegur teman kita ini, katanya “Mas, kalau jalan malam itu mbok ya bawa lentera  atau senter, biar orang tahu kalau anda lewat jadi bisa kasih jalan” … wah teguran ini menimbulkan inspirasi baru … “aku mesti bawa lentera atau senter kalau jalan malam” itu yang terpikir dalam benak mas kita yang buta.
Esoknya dia minta temannya agar dibelikan senter, lalu malamnya dengan perasaan mantab dan percaya diri seperti baru ikutan seminar pencerahan dari pakar, dia jalan bawa senter dengan harapan nggak nabrak orang lagi … wealaah kok ya nabrak lagi .. orang yang sama juga, dipojokan yang sama  … orang ini kembali menegur mas kita ini “Piye tah mas, sudah dibilang bawa senter kok nggak manut sih”, mas kita ini agak tersinggung … “Lha sampeyan nggak lihat ini ada senter ditangganku”, sambil marah-marah menunjukan senternya … ooh … ternyata senter itu tidak dihidupkan …
Ilustrasi diatas sering kita alami, melihat pengalaman orang lain dan menerapkan dalam usaha kita tanpa tahu apa sih “rahasia” kesuksesan yang bersangkutan … apa yang menyebabkan bisnis orang itu bisa “on” sedangkan bisnis kita tetap “off”, yah kita ibarat orang buta yang tidak bisa membedakan fungsi dari senter …
Carilah suatu pembeda sehingga orang lain “buta” terhadap produk anda, distribusi atau layanan anda sehingga anda bisa jalan jauh dimuka pesaing anda yang masih meraba dalam kegelapan.

System dan manajemen tipe apa sih yang cocok untuk kita di Indonesia?, pertanyaan ini selalu timbul dalam benak saya … sungguh tidak mudah menjawabnya …
Tulisan saya ini bukan bermaksud untuk menilai mana yang lebih baik melainkan sekedar refreshing saja sambil mengingat apa yang sudah dilakukan dulu ..
Awal tahun 80’an muncul istilah TQC yang dengan cepat diadaptasi oleh beberapa perusahaan di Indonesia, terutama Astra, karena walau QC/TQC ini konsepnya dari Amerika [Pakde Deming, bukan Demang lho] tetapi justru Jepang yang menyerap dan menerapkan dalam beberapa perusahaannya, terutama perusahaan otomotif tentunya imbas ke Astra lebih terasa.
Di Astra TQC menjadi ATQC dengan tambahan Astra didepannya, prinsipnya sih sama saja, tetap PDCA [Plan Do Check Action] … Kalau pengamatan saya, ATQC bisa sangat baik bila diterapkan untuk suatu pekerjaan yang terukur, misal di engineering, technical, delivery tetapi sangat susah diterapkan di pekerjaan yang banyak ditentukan oleh faktor luar seperti finance dan accounting, ini terlihat dari hasil konvensi TQC selalu team technical yang menjadi juaranya. System ini cocok diterapkan untuk kelompok kerja kecil … kelainjutan dari TQC ialah Kaizen [continue inprovement].
Gaung TQC menyurut lalu awal tahun 90an muncul BPR [Business Process Re-Engineering], proses end-to-end, wah ini kelihatannya lebih gagah ya … semua dilihat flow nya dari awal sampai akhir, lalu menyederhanakan setiap proses yang terjadi, lalu bikin form dan aturan baru [kalau perlu], nah masalahnya dalam perkembangannya seringkali tiap bagian buat aturan sendiri sesuai “keadaan”, nah ini yang nantinya bisa bikin ruwet suatu alur proses yang sudah terbentuk.
Menurut penelitian hanya dibawah 10% dari perusahaan yang menerapkan BPR yang bisa berhasil, itupun diragukan ke efektifitasnya … lalu lenyaplah BPR ditelan jaman.
Balance Scorecard pun berkibar untuk menjadi system yang digunakan management  dengan melihat Business Strategy, Internal/External factor, Organization dan Technology/Structure … wah makin canggih nih … dengan melihat hubungan tiap bagian dan memasang bobot yang berkaitan disertai target tertentu pasti ini system canggih … nah faktor PEST [Politic, Economy, Social, Technology] ternyata susah dikendalikan di negara ini … sedangkan menentukan bobot juga datanya susah dicari yang pasti terutama data dari market, maklum mencari data market di Indonesia banyak yang dimanipulasi, akhirnya SWOT analysis merupakan cara yang paling gampang hehehehe.
Muncul Six Sigma dengan cara militer dan hanya mengijinkan beberapa kesalahan dari sekian juta proses, wah ini hebat banget, mau menerapkannya saja beberapa perusahaan memberikan training seperti tentara, sertifikasinya harganya muahaal fhuiii, ternyata contoh perusahaan yang menerapkan Six Sigma yang berhasil malah perusahaan pengantar rantang makan siang di India yang mempekerjakan tenaga lulusan SD hehehheeheee … kok ya sesederhana itu [ini selalu yang menjadi contoh Asian Institute of Management Philipine] …
Makin lama saya makin mumet, akhirnya kembali ke system negeri sendiri dengan keakraban dan keguyuban yang dari dulu sudah membudaya … kembali lagi ke kita apakah bisa di trust, kembali lagi ke niat kita berusaha dan kembali lagi seberapa jauh kita dekat dengan pelanggan kita …
Belajar dari kehidupan sehari-hari dan perhatian kepada orang lain, belajar dari pengalaman orang serta kunyah dengan pelan pengalaman itu hingga terasa manisnya saat kita terapkan di usaha kita.

Ternyata “ KITA TIDAK SENDIRI”  ayooo kita bangun TDA Joglo …..

Next Page »