Tentang Customer


Take and Give

Minum kopi panas dengan beberapa teman di “markas” Mal Ambasador sangat menyenangkan, bicara dengan pelaku bisnis langsung seperti jualan HP, asesori komputer gadget dan sebagainya kadang merambah kearea yang tidak ada hubungannya dengan bisnis.
Hari selasa lalu saya mendapat pencerahan dari dua cara bisnis yang berbeda yang ada disekitar kita justru dari pelaku bisnis yang sangat sederhana dan sering kita anggap level bawah.
Kejadian pertama saya yakin banyak diantara kita pernah mengalami, disebuah perapatan lampu merah didaerah Jakarta Pusat suatu sore saya iseng beli koran dan uang yang saya berikan memang harusnya ada kembalian Rp.500,- tetapi saya ikhlaskan “give” kepenjual koran dan saat itu lampu juga sudah mulai hijau, kendaraan saya mulai maju, tetapi yang terjadi malah sebaliknya dari yang saya pikirkan, sipenjual koran ngotot mengejar mobil saya dan ngotot tidak mau menerima kelebihan Rp.500 tersebut. Saya dengan terpaksa ya menerima “Take” lagi, walah mau berbuat baik malah ditolak.
Kejadian kedua ya saat lagi ngopi di markas, karena pembicaraan bisnis lagi mulai “panas” dan teringat ada pesanan siap saji dari anak saya, saya sempatkan 1 menit pesan sambil pikiran masih terlibat dalam diskusi. Disini pencerahan itu muncul, karena harganya pakai angka hoki “900” waktu bayar ditanya kasir, “bapak punya uang Rp.100” [“Give” ke kasir], maksud dia supaya kembaliannya kesaya pas Rp1000, saat saya bilang “nggak ada” maka dengan tenangnya si kasir memberi kembalian Rp.500 tanpa memikirkan saya dirugikan Rp.400 yang di “Take” dari saya … yah karena saat itu lagi diskusi topik yang “hot” saya langsung terima dan kembali kemeja diskusi …
Sungguh saya mendapat pencerahan tipe bisnis mana yang saya mau ambil dari kejadian kecil tersebut.

Hampir sama dengan pengalaman Bagaimana memenangkan hati Customer [1], kejadiannya berulang karena ulah rekan sales disuatu instansi Pemerintah yang cukup berpengaruh.
Sebetulnya ini proyek kami ke 2 setelah proyek pertama untuk instalasi komputer diseluruh lokasi kecamatan se Indonesia selesai, yang menjadi masalah ada beberapa “janji” saat proyek pertama yang tidak bisa dilaksanakan karena beberapa perubahan yang terjadi, tetapi membuat Bapak B (sebut saja demikian) sebagai orang yang berpengaruh saat itu mempermasalahkan hal itu dan susahnya lagi beliau tidak mau ketemu dengan rekan sales.
Saya kembali diminta sebagai utusan khusus, agak lebih enak sebetulnya karena bapak B ini sering ketemu dan sebatas obrolan biasa saja bisa dilakukan, tetapi saya ingin lebih mengenal beliau. Kesempatan datang saat saya ajak beliau jalan ke lapangan di Denpasar Bali untuk melihat proses implementasi, ini suatu hal yang belum pernah terjadi, karena beliau selalu menolak biasanya kalau diajak.
Saya punya kesempatan 3 hari 2 malam untuk mencoba menjadikan beliau dari “customer” menjadi “teman dekat”, ternyata tidak mudah karena sampai malam kedua menjelang besoknya kembali ke Jakarta saya tetap belum bisa masuk.
Semalaman saya berpikir sampai akhirnya saat breakfast dihotel saya bisa berbicara berdua dan saya coba menggali dari sisi lain, nah ini membuka pintu hati dia. Ternyata Pak B ini senang sekali wayang dan tokoh yang dikaguminya adalah Bima. Beliau cerita bagaimana caranya mengenalkan wayang pada anaknya, beliau bangga dengan anaknya …
Saya langsung katakan bahwa saya tahu penatah dan penyungging wayang yang bagus di Yogya dan saya akan carikan tokoh kesayangannya, Bima, untuk beliau koleksi.
Dari Denpasar, saya langsung menuju Yogya kemudian dengan membawa Wayang Bima yang besar saya lewat darat ke Jakarta, setibanya di Jakarta saya cari buku wayang karangan RA Kosasih diseluruh plosok TB Gramedia, untuk ketemu di Gramedia Matraman. Besoknya saya bawa Bima dan buku wayang tersebut kekantor Bapak B, terlihat sekali betapa senangnya beliau, dan hubungan kami akhirnya menjadi lebih erat serta sesuai kesepakatan bersama maka semua problem sebelumnya bisa diselesaikan dengan baik.
Ternyata yang saya lakukan diatas masih ada kelanjutannya saat pengadaan Komputer berikutnya, beliau mencari saya untuk minta saran apa yang sebaiknya dilakukan.
Pendekatan pribadi bagi saya nilainya sangat luar biasa, tidak ada masalah yang berkaitan dengan “uang” dalam hal ini kecuali buat beli buku dan wayang yang tidak seberapa, tetapi hubungan pribadi ini bisa bertahan sampai saat ini walau sudah lama saya tidak bekerja di PT X X tersebut..

Next Page »