Memenangkan Hati Customer [1]

30 10 2007

Kejadian ini sudah lama sekali sekitar tahun 1995, tetapi bagi saya ini merupakan pengalaman yang berharga bagaimana kita merubah hati Customer yang tadinya sudah antipati pada Perusahaan menjadi simpati kembali.
Saat itu ada seorang GM (kita sebut saja A) dari suatu perusahaan otomotif terkemuka di Indonesia yang karena pengalaman buruk dengan Sales dari Perusahaan tempat saya bekerja (kita sebut saja PT XX) menjadi antipati walau sebetulnya kami dalam satu group perusahaan.
Nah, saya diminta oleh Bos saya untuk merubah persepsi A tadi karena kalau tidak maka ini bisa menjadi batu sandungan dan menghalangi proses order berikutnya, saya sebetulnya rada sebel juga karena saya dari Service tetapi harus nangani pekerjaan yang menurut saya harusnya ditangani Sales, cuma ya itu karena bapak kita ini sudah antipati dan males berhubungan dengan Sales dan didukung perintah Bos … yah saya maju juga, ini tantangan bagi saya.
Langkah pertama minta ijin masuk siang seminggu 2 kali karena saya pagi pagi mau nongkrongin bapak kita ini dikantornya, hari pertama saya datang sengaja sebelum A masuk kantor dan say “hello” saat dia tiba, yah cuma itu saja karena dia tahu saya dari PT XX. Kali kedua dan ketiga persis sama saja, selama itu saya hanya ngobrol dengan salah satu manajer bawahannya yang kebetulan saya kenal, sambil cari akal bagaimana bisa “masuk” dan bicara dari hati kehati. Sengaja saya tidak bicara masalah saya dengan orang orang sekitarnya, karena ini misi rahasia dari bos hehehe.

Setelah berjalan lebih dari 2 minggu, suatu hari saya lihat beliau sedang kebingungan, saat itu jam 8.15 pagi. Insting saya mengatakan ini kesempatan saya, lalu saya dekati beliau dan tanya “Ada apa Pak?, kok seperti ada masalah?”. Beliau menjawab ada meeting penting dikantor pusat jam 9:00, padahal mobilnya dipake istrinya dan belum datang menjemput .. ha ha .. ini kesempatan yang saya tunggu, tanpa pikir panjang saya ajukan diri mengantar beliau dengan mobil saya, walau dengan sedikit sangsi beliau bertanya apa bisa sebelum jam 9:00 sampai di kantor pusat?. Saya sok yakin bilang “Saya tahu jalan pintas pak”.
Jadilah kami berdua berangkat, dijalanan sambil konsentrasi dan injak gas, saya sempatin ngobrol mengenai hal-hal diluar pekerjaan seperti masalah keluarga dan sebagainya dan ,,,, pas jam 8:55 saya sampai didepan pintu kantor pusat. Beliau tidak telat menghadiri rapat penting ….
Urusan selanjutnya jadi lebih mudah, karena sekarang saya bisa bicara dengan leluasa mengenai masalah yang dia alami yang berkaitan dengan perusahaan dimana saya bekerja, hubungan kami jadi lebih baik serta misi saya berhasil dengan sukses.

Menunggu kesempatan memang sangat membosankan, tetapi apapun caranya kalau kita bisa memanfaatkan rasanya tidak ada hal yang mustahil walaupun itu mungkin bukan menjadi bidang pekerjaan atau keahlian kita.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: