Bangga menjadi bangsa Indonesia

10 12 2007

Ass WW Pak Deni, [tulisan ada dibawah]

Tulisan anda sungguh menggugah … saya bangga melihat TDA punya orang yang berjiwa seperti anda dan saya yakin sebagian besar kitapun demikian.
Analisa anda sangat tajam dan memang itulah keadaan kita saat ini ….
Saya sendiri tidak pernah merasa rendah diri berhadapan dengan bangsa manapun didunia ini, baik saat training bersama dulu, memberikan presentasi di seminar diluar negeri, adu argumentasi atau kalau perlu “memulangkan” mereka kenegara mereka kalau dirasa kita mampu mengerjakannya dan itu semua pernah saya lakukan.
Yang membuat saya sering sedih adalah kita sendiri kadang kurang menghargai apa yang kita punya seperti budaya [contohnya] dan akhirnya belajar dari mereka dan diuji oleh mereka … lho apa nggak sedih mbah kita yang menciptakan budaya itu?, lihat saja notasi gamelan Jawa kalau mau lengkap ya cari di Universitas Amerika [CalTech], budaya Jawa ya di Belanda atau Inggris .. piye toh, ternyata yang diambil bukan hanya kekayaan bumi kita tapi juga budaya kita dan kita merasa mereka menghargai budaya kita …. waaah mau lihat Bedaya Ketawang saja kita susah [bener nggak mas Prie], lha kalau orang asing malah boleh shooting hehehehe.
Hampir semua Perusahaan besar di negeri ini sudah dipunyai oleh orang asing, lha sebesar apapun keuntungan yang didapat Perusahaan tersebut, pemerintah cuma kebagian “Pajak”, sebagian besar keuntungan ya lari keluar negeri … ini terjadi juga disemua sektor industri, saat pupuk yang dibutuhkan petani kita sedang kritis juga tidak ada tindakan Pemerintah untuk membatasi keluarnya LNG yang merupakan bahan utama pupuk … petani menjerit karena harga pupuk meningkat dan susah didapat ya cuek saja …  hal ini terjadi 1 tahun yang lalu sekitar bulan Agustus …
Saat ada di Yangoon,10 tahun lalu saya pernah lihat orang sana punya Toyota Kijang, walau cuma ada 2 … wah saya bangga banget lho … weeh mobil buatan Indonesia bisa jalan2 diluar negeri …
Apa yang salah sih dari kita?, kebanggaan kebangsaan?, kecintaan terhadap apa yang kita punyai?, mental kita sudah kalah duluan? kerja keras? atau apa …
Hati-hati dengan penjajahan “ekonomi”, Ayooo di TDA kita bangun landasan cinta tanah air dan tularkan kepada orang lain disekitar kita, tapi mulailah dari diri kita sendiri …
———————————————————————
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dear all, lama gak mampir ke millis TDA nih, soalnya pekerjaan rutin menyita waktu saya, dan saat ini saya berada di Nanggro Aceh Darussalam untuk tugas kantor hingga mendekati libur Iedul Adha…
Kami akan menangani hand over pekerjaan dari staf expatriat kepada staf lokal, karena program rekonstruksi Tsunami akan berakhir tahun 2009 awal, dan semua staf2 asing akan pulang pada bulan Juni 2008, kami datang ke sini karena melihat proses hand over ini berjalan sangat lambat dan seperti terganjal karena menurut staf2 expatriat mereka tidak yakin dengan kemampuan orang Aceh menangani pekerjaan mereka selama ini.
Di hari pertama observasi, saya & team menemukan pemandangan tragis saat melihat cara staff lokal dan expatriat ini bekerja, ingin menangis rasanya melihat staf lokal diperlakukan seperti orang yang tidak bisa dipercaya, dianggap tidak mampu, dan pemalas, sementara orang2 asing ini berlagak mirip dewa yang luar biasa hebatnya…
Kondisi ini sebenarnya sudah kita ketahui sejak lama, dan salahsatu tujuan saya dan team datang ke Aceh adalah untuk memperbaiki ini semua.
Saya bisa memahami hal ini, orang2 asing ini kebanyakan berasal dari negara2 persemakmuran (eks jajahan Inggris) dan mereka mengadopsi banyak kultur Inggris, mereka terbiasa bekerja individu dan tidak team work, mereka sangat selfish, memiliki rasa percaya diri yang luar biasa, dan berani mencoba apapun termasuk mengerjakan sesuatu yang bukan keahliannya sangat eager to learn, apalagi dalam sejarahnya Inggris menjajah negara2 mereka “secara bertanggungjawab”
berbeda dengan Belanda yang tidak mengajarkan banyak hal kepada bangsa ini kecuali membangun Amsterdam yang megah dari hasil bumi Indonesia dan meninggalkan masalah perilaku tidak memiliki percaya diri karena ditanamkan stigma inlander selama 350 tahun, sehingga perilaku ini kadang masih muncul dibeberapa generasi; “terkagum2 dan takjub saat bertemu orang asing, bahkan dari bangsa manapun juga”.
Kedatangan saya dan team membuat suatu kondisi yang berbeda, para expatriat ini pada awalnya berpikir kami semua sama seperti staf lokal yang ada disana, sempat ada konflik2 kecil dengan mereka, dan pada akhirnya mereka mulai respek kepada kami walaupun saya tahu itu semua mereka lakukan dengan terpaksa, posisi hierarki kami yang memiliki otoritas membuat para expatriat ini dengan terpaksa mengikuti semua instruksi staf dari Jakarta.
Kamipun memulai banyak hal, salahsatu tugas penting adalah membangun rasa percaya diri staf lokal sekaligus kompetensi mereka, karena alasan hand over pekerjaan yang ditunda2 dari para expatriat ini kepada mereka adalah mereka tidak yakin dengan kemampuan orang2 Aceh
ini bekerja seperti mereka, PR yang lumayan berat, karena waktu yang tersedia hanya 6 bulan ke depan dan pada saat yang bersamaan beberapa staf lokal juga tidak perpanjang kontrak kerjanya serta terjadi penurunan nilai gaji mereka yang standar internasional dengan standar tanggap darurat bencana ke standar gaji nasional.
Secara rutin kami melakukan tradisi weekly briefing setiap hari senin pagi, suatu hal yang dulu rutin dilakukan ditempat kerja saya yang lama, briefing ini meniru budaya kerja orang Jepang untuk
menumbuhkan team work yang lebih solid, menimbulkan kebanggaan dan rasa percaya diri pada kelompok, serta mengidentifikasi dan mencari solusi bersama. Karena kami yakin dengan cara seperti inilah kami akan membuat mereka menjadi orang2 yang penuh rasa percaya diri dan
capable, program2 soft skill training juga sedang kita rancang untuk mereka, karena kamipun tak akan lama di tempat ini, dan pada akhirnya staf lokal yang akan menangani kantor ini.
Berikut ini cuplikan dari salahsatu briefing perdana kami kepada staf lokal Aceh;
Tugas kami ke Aceh adalah untuk menangani hand over pekerjaan dari staff2 lokal yang selesai kontrak dan hand over pekerjaan secara perlahan dari para expatriat yang datang dari berbagai bangsa; Macedonia, Kenya, Pakistan, Bangladesh, Srilangka, Caribia, & Mesir.
Berbicara tentang para expatriat ini, sebetulnya tidak ada yang luar biasa dari para expatriat ini, kenapa anda semua begitu tidak percaya diri saat bekerja dengan mereka?, datang dari negara2
berkembang yang beberapa malah kondisinya lebih buruk di banding Indonesia, tapi ada satu hal yang bisa dijadikan pelajaran berharga dari mereka; mereka begitu bangga menjadi bangsanya & memiliki kepercayaan diri yang sangat besar, padahal di beberapa negera2 mereka sekarang berkecamuk perang etnis, genocide dll, industri di negara mereka juga tidak banyak ini diketahui saat mereka berkunjung ke Medan, terkagum2 dengan kawasan industri di sana, korupsi sama parahnya, dan kebencian rasial menjadi perilaku keseharian di negara2 tersebut.
SO?, bandingkan dengan Indonesia, Dengan penduduk berjumlah lebih dari 228 juta (sensus penduduk tahun 2000), sekitar 300 etnis hidup damai di Indonesia dengan ratio etnis sbb: orang Jawa 40.6%, Sunda 15%, Chinese 10%, Madura 3.3%, Minangkabau 2.7%, Betawi 2.4%, Bugis 2.4%, Banten 2%, Banjar 1.7%, dan ratusan etnis lainnya termasuk orang Aceh dalam angka 19,9%. Lalu ada 6 pemeluk agama hidup berdampingan; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Tao/Konghuchu, lihat luar biasa kan negeri ini?Indonesia juga memiliki banyak sumber daya alam dan potensi wisata yang luar biasa, walau ini jadi catatan tersendiri; sumber daya alam yang luar biasa ini tidak dikelola dengan baik akibat kesalahan kebijakan pemerintah di masa lampau dan masih berlanjut hingga kini, potensi wisata juga demikian, baru beberapa daerah yang menggarap secara professional; Bali, Yogyakarta, Lombok, Toraja, lainnya belum bergerak
Banyak industri besar tumbuh dan berkembang di Indonesia, baik PMA, PMDN, BUMN, maupun UKM, walau ada catatan tersendiri dalam hal layanan publik dan birokrasi kepada dunia usaha, yang membuat mereka harus menanggung hidden cost yang sangat tinggi, tapi dengan kondisi
ini pebisnis2 Indonesia masih bisa mensiasatinya dan tetap bertahan.
Demokrasi adalah anugerah terbesar bagi bangsa yang majemuk ini, karena sejauh ini belum ada negara multi etnis lainnya di dunia termasuk Amerika Serikat sekalipun berhasil melaksanakan demokrasi dengan makna sesunguhnya, partisipasi pemilu warga negara sangat tinggi antara 90% – 95% bandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya mencapai angka 60% saja sisanya 40% memilih jadi golput, pasca reformasi yang menurunkan rezim Soeharto yang berkuasa 32 tahun, bangsa ini menjadi negara paling demokratis di kawasan Asia Tenggara, mulai dari Lurahhingga Presiden dipilih langsung oleh rakyat, walaupun masalah money politics, parpol yang tidak kompeten sehingga melahirkan politisi tidak berkualitas membayangi semua ini. perilaku korupsi dan rent seeking adalah masalah tersendiri dan PR besar bangsa ini, sangat serius, karena akibat gencarnya publikasi, banyak bangsa menganggap Indonesia adalah the most corruptioncountry in the world, mengatasi korupsi adalah tugas mulia kita bersama, sistem penegakkan hukum adalah otoritas pemerintah, tapi yang paling penting adalah nawaitu dari kita semua untuk ikut menghilangkan perilaku korupsi dan rent seeking dari lingkungan kita terlebih dahulu.
Dengan semua kondisi tersebut di atas, sudah sepantasnyalah kita semua bangga menjadi bagian dari negeri yang bernama Indonesia, jangan merasa rendah diri dan tidak yakin saat berhadapan dengan orang asing, percaya pada kemampuan diri sendiri, dan mulai saat ini mari kita bangun etos kerja sebagai orang Indonesia yang terbiasa bekerja secara team work dengan konsep gotong royong, tidak mengutamakan diri sendiri tapi mengutamakan kepentingan bersama, menjadi orang2 yang mampu menganalisa masalah dan bekerja sistematis karena kita semua berulangkali mempelajari hal ini, lihatlah bangsa Jepang, Korea, China serta para perantau China yang tinggal di
Indonesia, mengapa mereka maju?, karena mereka yakin dengan diri mereka sendiri, percaya diri, bekerja keras, mau belajar, dan tidak terlalu memperdulikan cercaan dan hinaan dari bangsa2 lain yang ditujukan kepada mereka, sehingga akhirnya mereka menjadi bangsa yang maju dalam ilmu, teknologi, dan ekonomi, bangsa Jepang adalah contoh nyata, setelah hancur akibat di bom atom dan menghabiskan anggaran perang yang begitu besar dan hampir bangkrut pasca perang dunia II di tahun 1945, bangsa Jepang perlahan bangkit, dan 60 tahun berlalu bangsa ini menjadi salahsatu bangsa yang makmur dan maju di dunia.
Nah kita bagaimana?, lebih banyak duduk terpaku dan mengamati hingga lupa bangkit, itulah sebabnya saat orang asing datang dan bekerja sama dengan anda2 semua mereka menjudge anda tidak capable, tapi mulai hari ini buktikan kepada dunia siapa anda semua….

Kami yakin, anda semua bisa.
Catatan dari Nanggro Aceh Darussalam Banda Aceh, 09 Desember 2007
Wassalam, Deni Danasenjaya
Islamic Relief Indonesia


Actions

Information

2 responses

11 12 2007
yekti

bosss, pesen ebook-nya sophie kinsella yang judul “Remember Me?”…
thx,,, japri aja yah…

11 12 2007
yekti

oya,,, tuh nopel blon dilaunch bosss,, baru mau keluar bulan peb 2008 nanti,,,

thx again,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: