Kisah si Tukang Kayu

12 12 2007

SI TUKANG KAYU

   Seorang  tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan  konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik  perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan  bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

   Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan  salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

   Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu  mengagumkan.

   Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu,” katanya, “hadiah dari kami.”

   Betapa  terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia  mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia  tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus  tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya  sendiri.

   Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih  memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada  bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.

   Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

   Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya  mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu  hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan  kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi.

   Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari  perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

“Hidup adalah proyek yang kau kerjakan  sendiri”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: