Email sedulur di Nigeria [1]

22 12 2007

Pak Har lan Pak Bams,
Betul sekali pak Har, sayang sekali saya hanya punya 10 judul, padahal saya punya cita-cita pengen bisa memiliki seluruh rekaman wayang kulit yang ada ditoko-toko khususnya dari dalang2: Anom Suroto, Hadi Sugito, Timbul Hadiprayitno, Narto Sabdho dan satu lagi dalang Banyumas Gino Purbocarito (?). Bahkan lebih jauh lagi cita-cita saya adalah bisa memiliki radio amatir yang khusus menyiarkan rekaman wayang kulit, klenengan dan kebudayaan jawa lainnya.
Sayang sekali keliatannya keinginan saya ini akan sulit terpenuhi karena harga satu set kaset wayang kulit saja sekarang sudah Rp 90ribu di Solo dan Rp 100ribu di Jakarta, padahal saya yakin yang beredar dipasaran pasti lebih dari 200 judul, jadi nek tuku dewe… hohoho… mboten kiat pak! Apalagi selama ini saya selalu sendiri dalam menekuni hobby saya ini, nggak ada yang diajak ngobrol. Dulu punya kawan kantor yang selalu saya ajak “berburu” nonton wayang di Jakarta, namanya pak Min asal Wonogiri, dia ini office boy dikantor dan umurnya sebaya dengan saya. Langganan kami dulu adalah nonton wayang gratis di setiap ulang tahun Mabes Polri di lapangan bola Blok M (instansi ini setiap tahun pasti wayangan), Satu Suro-nan di gedung DPR/MPR, dan acara2 ulang tahun instansi2 pemerintah lainnya, seperti TVRI, BPK, Kostrad, PTIK, dsb.
Kecuali Mabes Abri, instansi yang lain nggak selalu wayangan setiap tahun, tergantung ‘boss’nya, kalo orang nomor satunya jowo, udah pasti wayangan, begitu rupanya hehehe…
Keinginan saya untuk memiliki rekaman wayang -khususnya rekaman tahun 1995 kebawah- bukan semata-mata untuk koleksi pribadi, tapi saya ingin nantinya menyumbangkan koleksi tersebut kepada badan/instansi yang tepat untuk dilestarikan. Saya merasa sayang dan khawatir kalo sampe rekaman2 wayang yang bagus2 akan lenyap begitu saja.
Wah jadi ngelantur nih…
Pak Har, matur nuwun sak derengipun kalo nanti saya diperkenankan untuk mengcopy cd yang berisi ‘master’ dari gambar yang ada di blog itu, tapi sementara ini biar saya download dulu seadanya, soalnya dengan memandangi gambar wayang saja hati saya sudah merasa gembira hehehe… jan, wis tuwo isih koyo cah cilik awakku iki kekekeke… jadi sekarang kita balapan pak, pak Har nerusin upload dan saya mulai download hehehehe…
Soal DVD ruwatan tentu saja dengan senang hati saya mau meminjamnya dong pak… saya jadi inget waktu kecil dulu. Setiap dapat informasi ‘wayangan’ selalu saya pastikan ke pemberi informasi: “wayangan opo ruwatan”. Soalnya bagi anak kecil kalo wayangan lebih seru daripada ruwatan, dulu pernah beberapa kali nonton ruwatan, tapi waktu masih kecil, jadi dengan DVD pinjaman pak Har nanti saya akan menjadi lebih tahu secara lebih mendetil pelaksanaan ritualnya.
Nah kagem pak Bams… nuwun sewu nggih pak Har, saya tak nyombong sitik ke pak Bams soal ruwatan ini🙂
Ruwatan ini diselenggarakan untuk menyucikan diri atau untuk menghindarkan diri dari segala kesialan dan nasib buruk. Kalo dalam istilah ruwatan adalah untuk menghindarkan diri supaya tidak “dimakan” oleh Batara Kala karena kita termasuk orang yang “nandang sukerto”. Orang yang “nandang sukerto” (orang yang berada dalam “dosa”) ini banyak sekali jenisnya antara lain : Bocah Ontang-anting – yaitu anak tunggal laki2 atau perempuan, Uger-uger lawang (dua2nya anak lelaki), Sendang Kapit Pancuran (cowok-cewek-cowok), Pancuran Kapit Sendang, Kembang Sepasang, Mancala Putra, Mancala Putri dsb.
Selain itu masih ada lagi yang termasuk golongan “nandang sukerto”, antara lain : Orang yang rumahnya tidak ada “tutup keyong”nya. orang yang berdiri ditengah2 pintu, orang yang tidur pada waktu matahari terbit, dlsb. kayaknya masih buanyak banget.
Nah… jadi seperti pak Bams ini termasuk juga dalam golongan “wong kang nandang sukerto” soalnya sering tidur pada waktu matahari terbit, orang mah kalo matahari terbit pada bangun terus berkativitas, lha sampean ada adzan subuh malah baru berangkat tidur hueheheh… jadi sampeyan kudu diruwat pak!
Lanjut nggih pak…
Lakon Karno Tanding juga merupakan salah satu lakon favorit saya (tapi belum punya kasetnya), dan tokoh Adipati Karno memang banyak dikagumi oleh para penggemar wayang termasuk saya. Setahu saya gugurnya Karna adalah karena “kelicikan” dari Kresna yang “memaksa” Arjuna untuk segera melepaskan anak panah kearah Adipati Karna pada saat Karna sedang berkutat berusaha mengangkat roda keretanya yang terperosok didalam kubangan lumpur. (Pak Bams, lumpur disini bukan berarti lumpur biasa, tetapi berupa genangan darah dan tulang belulang para prajurit dari kedua belah pihak – Pandawa+sekutu dan Kurawa+sekutu).
Kalo favorite saya adalah lakon Kresna Duta pak Har, yang menarik saya adalah adanya dialog2 yang sangat ciamik hampir disepanjang cerita (wayang kok ciamik), dimulai ketika Prabu Kresna minggah sitihinggil dan melakukan pembicaraan dengan Prabu Doryudana yang ternyata cuma hah-huh-hah-huh nggak tau dan nggak bisa mengambil keputusan atas permintaan Pendawa melalui Kresna untuk membagi dua kerajaan Hastinapura.
Padahal belakangan permintaan Pendawa semakin diturunkan oleh Kresna mulai dari bagi dua kerajaan sampai hanya minta satu saja wilayah “jajahan” Hastina tapi toh kompromisasi yang sedemikian ringan tetap ditolak oleh Doryudana.
Dialog2 yang terjadi ketika Doryudana meminta pertimbangan kepada tokoh2 Kurawa seperti Pendeta Durna, Sengkuni, Prabu Salya dan Begawan Bisma, dialog dan perdebatan diantara prabu Kresna dengan mereka, menurut saya merupakan “pembicaraan” yang sarat dengan falsafah hidup yang begitu tinggi (mohon maaf kalo salah).
Pembicaraan akhirnya deadlock, malah hampir terjadi pembunuhan terhadap Kresna. Untung Kresna ini titisan Batara Wisnu yang bisa “triwikromo” (bukan Triwoko lho pak Bams…) yang bisa merobah dirinya menjadi seukuran “gunung sapitu” sehingga prajurit kurawa yang dipimpin oleh Burisrawa morat marit.
Yang lebih elok lagi adalah dialog antara Prabu Kresna yang memang sengaja mencari Adipati Karna diluar keraton. Wah… luar biasa, tak salah kalo pak Har mengagumi tokoh Adipati Karna. Prabu Kresna menanyakan kepada Adipati Karno mengenai sikap dan keputusannya dalam perang Bharatayudha yang tidak bisa dihindari lagi…. wah nek diterusne ra cukup 10 lembar🙂
Begitu juga ketika Adipati Karna menyempatkan diri menemui Dewi Kunthi yang adalah ibu kandungnya sendiri. Wah… (dari tadi wah weh wah weh sendiri)…
Yang pasti pertemuan antara Adipati Karno dan Dewi Kunthi adalah merupakan pertemuan yang pertama dan yang terakhir sejak Karno dilahirkan dan yang akhirnya untuk menutupi aib terpaksa harus dilarung ke sungai.
Bener-bener kisah kemanusiaan yang luar biasa indah dan patut menjadi pelajaran bagi kita semua
Untuk lakon ini saya mempunyai kasetnya yang dalangnya adalah almarhum ki Nartosabdho, dan lakon ini pernah diulang di Indosiar (1997) dengan sangat piawai oleh dalang muda dari Solo yang beliau adalah juga pengajar di STSI (ISI) Solo, ialah Ki Purbo Asmoro.  Dan ternyata kepiawaian Ki Purbo ini nggak kalah oleh seniornya, kalo nggak percaya nanti kita bertiga menyaksikan bersama rekamannya, saya masih menyimpannya di VHS.
Sebelum wayangan di Indosiar “rusak” oleh dangdutan dan tingkah “bintang2 tamu”, saya sempet merekam hampir sebagian besar yang ditayangkan oleh Indosiar, baru satu lakon yang sempet saya convert ke mpeg.
Astabrata atau Hasta Brata = Delapan Laku
Kalo nggak salah adalah delapan laku, watak atau sifat utama yang harus dipegang teguh oleh khususnya para pemimpin (termasuk pemimpin rumah tangga) yang didasarkan atas 8 sifat alam, nuwun sewu menawi lepat..
Pak Har nuwun sewu, terus terang saya saya sangat beruntung dan sangat berbahagia bahwa hanya dalam waktu kurang lebih tiga bulan saya bisa menemukan sedulur2 yang hebat2 seperti pak Bams dan pak Harmanto ini.
Sama seperti kalo saya kirim email ke pak Bams, ra ono entek’e.
Jadi memang yang paling tepat saya harus segera pulang ke Indonesia, dan nanti kita set waktunya untuk diadakan pertemuan supaya lebih gayeng dan nyamleng sambil dengerin uyon-uyon, ngopi lan ngudud… apalagi kita sama-sama ABG… wis jan, mathuk!
Bukan saja sekedar gayeng tapi harus juga membicarakan masalah bisnis hehehe… iya kan pak🙂
Nuwun sewu kula cekapi semanten rumiyin atur kula, menawi wonten kirang langkungipun mugi-mugi diparingono gunging pangaksami.
Salam taklim sederek enggal,
Ramli


Actions

Information

One response

2 04 2008
suhar

mas topmdi , aku asli bayumas ada aku kased dalang gino judul semar kembar 8 caset.mas aku suka dgn gambar2 wayang kulit yg hitam putih , kalau bisa banyakin lagi koleksinya . makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: